Postingan

Biarkan Aku Bercerita

Beberapa tahun ini aku mulai kehilangan minatku bersastra. Membaca, menulis, atau sekadar berkhayal seperti dulu kala. Buah karya para sastrawan tak lagi membuatku berdebar. Cita-cita menjadi penulis jangan tanya apa kabar. Lanjut studi Ilmu Sastra juga entah kapan. Bahkan, kini aku menggeluti hal-hal yang sebelumnya enggan kupandang: linguistik.Tapi bukan berarti tak ada hal yang membaik bukan? Hei, aku tidak berkata bahwa kehilangan minat membuat diriku lebih buruk. Mungkin memburuk di bagian minat tersebut, tapi aku yakin ada beberapa hal yang membaik pada diriku. Tentang mengambil keputusan dan cara berpikir misal. Bisa dibilang aku sudah lebih berani mengambil keputusan.
Ada banyak hal yang kulalui selama aku kehilangan minatku. Aku bekerja seperti umumnya manusia yang sudah menyelesaikan studinya. Sebenarnya, sebelum selesai studi pun, aku sudah mengicip dunia kerja. Lalu, aku mencoba mengambil pekerjaan di dunia lain yang membuat mataku berkembang biak. Sebuah dunia yang berlawa…

Dia itu Aku

Gambar
Suatu kejelasan jika malam ini saya gagal tidur lebih awal. Ah, itulah mengapa teman-teman bilang, "Jangan menunda tidur atau kau akan kehilangan kantukmu."
Selepas maghrib tadi, mata saya sudah berat, badan saya sudah lelah. Sebuah sinyal yang sangat jelas untuk cepat tidur. Namun entah mengapa saya masih ingin menyentuh-nyentuh gawai walaupun lampu kamar telah dimatikan. Gelap. Justru makin banyak hal yang ingin saya lakukan ketika badan telah rebah di pembaringan. Teringat nada, lalu menyanyi, menghidupkan laptop, mengunggah story, dan lain sebagainya hingga sampailah saya membaca-baca beberapa laman yang telah saya unduh sejak berhari-hari lalu. Laman berisi tulisan-tulisan ringan namun mendalam. Atau tulisan-tulisan mendalam yang dikemas ringan. Ah, itulah. Saya suka.
Singkatnya, saya menemukan seorang penulis dari salah satu tulisan yang juga seorang peneliti di bidang yang saya minati. Menarik! Saya cari akun media sosialnya kemudian saya kirimkan permintaan perteman…

Nyoh Ilmu, Nyoh!

Kau tahu? Tentu tidak. Siang ini aku sedang mengenang perasaan tiap masuk kelas, yaitu kuingin bawa tali jemuran yang panjang, lakban yang tebal, lalu kuikat satu-satu anak ibu bapak yang tak mau diam. Kurekatkan lakban erat-erat pada mulut mereka yang jarang tenang. Kutuangkan seluruh materi pelajaran dalam ember besar. Kemudian kusiram mereka satu persatu, "NYOH ILMU, NYOH NYOH ILMU, NYOH!!!" ~ Aku, muda dan (masih) fakir formula
Tentu tak kan senyata itu kegiatan yang saya lakukan di sekolah sebagai teman belajar putra putri ibu bapak. Itu hanya selecutan ekspresi gemas, selecutan saja yang bercampur konten viral #alaBuDendy. Betapa urusan manajemen kelas bisa membuatmu cemas selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, sampai-sampai muncul ungkapan "siswa adalah mimpi buruk setiap malam". Lebih mengerikan dibanding kerinduan akanmu #suarasiulsiul.
Apakah "mangga muda" ini tak mendengarkan nasihat yang lalu lalang bahwa kondisi setiap siswa di setiap…

Dari "Sementara" Menjadi Lebih Berharga dan Tentang Fitur Baru WA

Gambar
Dewasa ini, privasi seperti tak ada harganya lagi. Semua aktivitas dari peluncuran entitas baru ke "medan perang" alias brojolin bayi sampai "how to leave this world with my way" nyata tersaji ke seluruh penjuru negeri. Bukan hanya suka dan duka, melainkan juga rasa benci dan segala jenis emosi jiwa lainnya. Seakan tiada lagi hal yang tidak bisa untuk tidak dibagikan kepada khalayak umum. Bahkan mandi, aktivitas paling pribadi yang semua orang pasti bisa melakukannya pun ada siarannya. Mandi itu aktivitas pribadi lho, kecuali kamu kucing :3
Sebuah kiriman dibagikan oleh Mind Blowon (@tahilalats) pada Mei 19, 2017 pada 3:49 PDT
Dengan Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, Snapchat, Bigo Live, dll. kita bisa menduniakan diri kita, aktivitas kita, hidup kita, tapi tidak hati kita ❤. Aplikasi gratis, daftarnya gampang, kuota murah, kalau ga juga wifi gratis bertebaran, dan kini hampir setiap orang punya hape android. Begitu banyak kemudahan yang mereka tawarkan agar k…

Satuduati...

Gambar
"tanpa harus aku meminta
tanpa harus aku berlari
sampai sesak
peluh berdesak
kau beri aku terang
tentang apa di dalam sana
tanpa sentuh dan dobrak
pintu
ukir
yang
tak
asing
itu"


percakapanku selalu dimulai di malam hari. dan kali ini tak sendiri. ah, aku memang tak pernah sendiri. kau selalu ada, hanya aku lupa diri. aku bercerita padamu tentang sebuah pintu kala bulan masih berdiri, belum menggelinding seperti malam ini. apa lantas kau mengira bulan punya kaki? aku tak membatasi. pintu yang awalnya tak menarik hati. namun seiring detik berdetak, aku melihat ukiran-ukiran yang tampak di permukaannya.
sisi dengan ukiran tertentu menarik perhatianku. pola yang tak asing yang sama seperti di rumahku. jika kau percaya akan takdir. kesamaan ini bukanlah suatu kebetulan. namun sudah digariskan. untuk kali pertama, aku menemukan pola ukiran yang telah tertanam lama sejak aku bisa mengingat pada sebuah pintu saat aku kembali belajar tentang timur dan barat.
detik terus berdetak dan sampai detik…