Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2010

Aku Tidak Suka

Bus telah penuh dengan manusia-manusia yang ingin segera pulang maupun meninggalkan tempat. Puluhan hidung menghirup zat yang sama. Namun zat tersebut menjadi susah melintas karena terhalang manusia. Seperti sebuah persaingan ketat, yang lubang hidungnya besar bisa bernafas lega. Yang tangannya panjang bisa menjangkau besi pegangan leluasa. Yang keteknya paling berkeringat dan baulah yang berbahagia. Yang mengakui dirinya higenis setengah mati menderita. Kepulan asap rokok bergantian masuk lubang hidung setiap orang di bus. Gerongan mesin bus menjadi polusi suara utama ketika melaju. Kenek bus yang merasa dirinya paling slim tanpa harus minum produk pengepres tubuh segera menagih ongkos para penumpang. Terlalu khawatir kalau sampai ada yang tidak bayar.

Senggol-senggolan, dorong-dorongan, himpit-himpitan pun tak terelakkan. Untung senggol bacok tak berlaku di kendaraan umum. Kalau saja berlaku, tewas semua penumpang. Tanganku mulai licin karena keringat. Memerah warnanya terlalu erat …

Pesan dari Tepi Jurang

Ransel hitam di punggungku terasa semakin berat. Mungkin ini sudah waktuku untuk istirahat. Kupercepat langkahku. Aku harus mencapai desa terdekat sebelum hari mulai gelap. Namun langkahku terhenti di depan seonggok batu besar di pinggir jurang. Seorang pria bertelanjang dada berdiri di sana. Tubuhnya bersih tapi kurasa otaknya tidak beres. Sebuah kalender penuh coretan tergeletak di bawahnya.
“Hei! Sedang apa kau?” Tanyaku.
“Menunggumu.”
“Ha? Menungguku?”
“Aku menunggu siapapun yang lewat sini. Dan sejak matahari terbit sampai sekarang hanya kau yang lewat.”
“Lalu, apa keperluanmu menunggu orang di sini?”
“Tolong sampaikan pada orang-orang yang hidup tak jauh dari sini untuk mengambil ragaku di bawah jurang dan menguburnya besok pagi. Berikan nisan yang terbuat dari tanah liat yang dibakar.”
“Siapa namamu?”
“Lihat saja di kuburan besok pagi.”
“Bodoh kau. Kalau kau terjun ke bawah sana, mana ada orang yang mau mengambil mayatmu dan menguburnya di kuburan. Paling-paling mereka hanya ak…

Utusan Merapi

Gambar
Kegiatan saya di luar dunia maya memang sedang padat-padatnya, hingga sebulan lebih tak menjamah blog ini. Padat-padat seperti abu merapi di sepanjang jalan yang ternyata lumayan susah untuk dibersihkan.
3 November 2010 Aku pulang ke rumah. Ah senangnya! Kulangkahkan kakiku keluar bus. Tanah. Kuhirup udara... Ugh! Apa ini? Abu! Seketika itu pun aku batuk-batuk. Kulihat sekitar. Putih. Ah! Mataku kelilipan. Ingin kukucek mataku tapi kemudian aku teringat. Aku tak mau kembali ke tempat kerja para dokter. Utusan Merapi! Hujan abu...!!! Aku berlari menyebrang jalan yang sepi sambil menutup mataku. Kuketok pintu rumah tanpa aturan. Ayah pun membukakan pintu. "Pak, ujan abu! Ugh." "Sudah turun sejak siang tadi."
4 November 2010 Hei! Mereka datang lagi. Lebih tebal dari kemarin. Putihnya. Dan ternyata utusan kali ini juga mengunjungi Purworejo kota, walaupun 1/2 porsi lebih sedikit dari kampungku. Sekolahku, jalan raya, atap bangunan, pepohonan, ah... bagai ditaburi pasir panta…