Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2012

Siapa Akan Peduli

Siapa akan peduli pada orang yang tak menarik. Tak punya karya untuk dipuji. Tak seperti mereka yang handal dalam suatu hal. Mereka yang sangat sosial dan selalu diperhatikan.
Ia duduk bersama mereka. Namun diam karena jiwanya sedang menempuh perjalanan panjang di bumi yang berdebu bersama rombongan panglima berkuda yang menyembunyikan sosoknya dalam baju baja tua berkarat. Sehingga raganya kosong seperti mayat namun tetap nampak hidup. Tapi bukan mayat hidup.
Apa yang ia sedang kerjakan adalah bukan main-main. Walaupun itu nampak main-main dan tidak mungkin. Tapi itu serius. Lebih serius dari bagaimana cara mendapatkan nilai A yang selalu dipikirkan mereka. Mereka yang sangat sosial. Ia punya ribuan hal serius yang tak bisa dimengerti oleh sembarang mereka. Ia tempatkan ribuan keseriusan dalam setiap lorong di seluruh bagian kepalanya.
Ia membenci orang-orang yang mengeluh dengan kesendirian mereka. Orang-orang yang sok merasa kesepian. Padahal sebenarnya ada para sosial di dekat me…

Kabut Mengikat Tiang Jembatan

Kabut mengikat tiang jembatan. Membuat dingin dan basah. Berembun. Kututup mataku dan dua ekor makhluk mengekor tanpa izin. Di sini tidak ada manusia. Aku sedang malas bertemu manusia hari ini. Aku pergi dari mereka. Manusia hanya suka yang sejenis. Sedangkan aku tidak sejenis dengan mereka. Tapi aku bukan roh halus. Aku manusia yang sedang enggan bertemu manusia.

Pergi ke seberang jembatan adalah ide yang bagus untuk jauh dari manusia. Tapi dua makhluk yang mengekor adalah ide buruk. Aku hanya mengizinkan satu makhluk mengekor. Tidak lebih dari itu. Aku berjalan di jembatan dengan satu makhluk. Yang lain sudah pergi karena mengerti. Pergi mencari tempat mengekor.

Jembatan ini terlalu panjang untuk dilalui seorang diri bersama seekor makhluk yang mengekor. Namun lebih baik daripada bertemu dengan manusia. Makhluk yang punya organ. Yang punya sungai di tubuhnya. Yang tertawa dengan yang sejenis.

Matahari adalah bulan yang menari di atas jembatan. Sia-sia. Kabut di tempat ini tak mengiz…

Saya Pernah Dengar

Saya pernah dengar, katanya cita-cita setiap anak adalah hal yang mulia. Saya yakin kalu saya itu anak (manusia). Saya juga punya cita-cita. Cita-cita saya adalah menjadi seorang pembual. Itu pekerjaan yang menyenangkan dan mulia tentunya karena saya adalah anak. Saya tak butuh dipercaya oleh orang-orang karena yang saya inginkan hanya mereka suka pada bualan saya. Mereka tergila-gila dengan bualan saya. Mereka akan kesakitan bila tak membaca/ mendengarkan bualan saya satu hari pun. Tapi mereka tak kan menangis, hanya merasa kesakitan karena saking rindunya pada bualan saya. Karena bualan saya sebisa mungkin akan saya buat agar tidak bisa ditangisi orang-orang tetapi dirindui orang-orang. 
Bualan saya bukan senjata untuk menakut-nakuti orang. Bukan hal yang membuat gempar seluruh isi hotel, gedung pemerintahan, kantor polisi, maupun rumah sakit. Bukan pula sesuatu yang dielu-elukan hingga muncul di spanduk dan iklan-iklan pertelevisian. Namun bualan saya adalah sesuatu yang dirinduka…