Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

-

Aku mencari camar laut di atas pasir yang mulai terberai kerna sentuhan ombak. Dan pagi ini tiada dengan segala kekosongan yang mengisi telinga. Mestinya kutanya ia ke mana perginya tiga ekor sajak yang telah berbulan-bulan menemani pergantian waktu. Tiba-tiba mereka hilang ketika ku terbangun di bawah sinar mentari yang kini bebas. Tapi aku tak begitu saja percaya bila mereka kan berkata, “Salah satu dari mereka t’lah menjadi manusia. Pernah kami saksikan di depan pertokoan. Ia berbaju ketat dengan ikat kepala.”
Bukannya aku menolak kenyataan yang ada. Namun sajak tetaplah sajak sekalipun sajakku telah berada di depan pertokoan, terlibat pergaulan bebas, dan termenung sendiri menanti dua ekor sajak itu kembali.
*Untuk tiga ekor sajakku yang pernah setia dan kini sedang terlelap dalam rimba kepalaku yang paling dalam.

Deras!

Sore tadi saya keluar sebentar ketika hujan menghantam-hantam bumi tanpa ampun. Air melimpah ruah menyusuri bumi kota. Ada yang menarik perhatian saya. Air terjun Niagara! Ya, dari atap sebuah rumah berdinding tua. Suaranya ngeri bila didengar lama-lama. Tapi saya takjub jua.
Ia menaruh rasa pada bumi yang telah tua. Itu saya perkirakan dari hantamannya yang cukup dahsyat. Putih meluncur dari atap menuju paving-paving retak. Rasa yang sungguh tajam bila diungkapkan dengan kata-kata. Pertempuran yang cukup hebat.
Luncuran yang menghantam bumi itu pecah ruah menjadi sosok tenang nan mendinginkan. Membelai manja kaki-kaki yang nekat menembus hujan. Bisikan manjanya menusuk pori-pori, "Aku mencintaimu, aku mencintaimu." Ah, hentikan. Aku tak tahan dengan kata-kata itu. Lagi pula kau mengucapkan itu hanya pada kaki-kakiku.
Sebenarnya ini cukup rahasia untuk kukatakan. Tapi aku tak tahan bila terus diam. Baik, akan kukatakan. Mereka mencintaimu juga. Harusnya kau senang dan berbi…

Akan Saya Kembalikan Lagi

"Beruang merah itu akan saya kembalikan di bawah gumpalan buih sabun yang menggantung."

Lama, inspirasi abstrak saya mati. Mereka bersembunyi dalam ingatan saya yang menguncup. Ayam, bebek, dan kambing, teman-teman yang setiap malam saya ajak meniti kabel listrik di perkotaan. Inspirasi yang berlarian di atap indekos, mencari saya yang membutuhkannya. Ah, ia selalu lupa denah yang saya gambarkan. Denah menuju saya.

Kegilaan-kegilaan itu muncul begitu saja tanpa saya panggil dengan mantra. Lagi pula saya tak punya mantra, kecuali khayalan saya yang tidak begitu normal. Itulah berkah dari Sang Pencipta. Teman-teman saya itu sangat senang muncul pada pagi dengan cahaya matahari yang mengintip dari jendela, pada hari yang cerah dengan langit biru yang penuh sukacita, tak lupa hehijauan segar yang tertimpa embun. Hei, mereka juga tak segan muncul dalam kegelapan ketika mata saya yang bulat tertutup kelopak mata. Mereka hampir muncul setiap waktu.

Mereka benar-benar teman saya. Te…