Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Gerhana Itu Mengejar!

Gambar
Gerhana: bulan (matahari) gelap sebagian atau seluruhnya dilihat dari bumi; eklips. Gerhana bulan: cahaya bulan tidak sampai ke bumi karena titik pusat geometri bulan, bumi, dan matahari terletak pada satu garis dan bumi berada di tengahnya. Gerhana matahari: saat bulan terletak di tengah-tengah jarak antara bumi dan matahari sehingga bayangan bulan jatuh ke permukaan bumi. (Sumber: KBBI)
Gerhana matahari pernah membuat desa saya geger. Sirine mobil polisi membuat suasana makin mencekam kala itu. Semua orang dihimbau masuk ke rumah. Pintu dan jendela harus ditutup rapat-rapat. Jangan sampai ada celah yang dapat meloloskan caya matahari ke dalam rumah. Sebab cayanya yang terlalu terang bisa membuat buta. Seketika bumi menjadi gelap. Namun kicau burung masih ramai. Ibu saya dan anak-anaknya yang masih kecil menunggu di dalam rumah. Sedangkan Bapak ke masjid untuk salat gerhana.
Saya terperangah mendengarkan kisah itu. Semencekam itukah? Entah tahun berapa gerhana matahari itu terjadi. Yang…

Tulisan Marah-Marah

Suatu hari aku ingin marah-marah. Namun karena pada saat itu tidak mungkin untuk marah-marah, kutahan marahku sampai lupa. Sampai berbulan-bulan lamanya. Selama itu aku berkali-kali bertemu dengan penyebab marahku. Aku biasa saja. Hanya saja tak seakrab biasanya. Aku tak mau lagi membagi kisah cintaku padanya. Pembicaraan kami hanya berkutat pada masalah biasa mahasiswa. Kuliah, tugas, jam buka warung nasi, sarapan apa hari ini, dan berbagai hal basi lainnya.
Sampai suatu ketika, tahun telah berubah dan bulan telah muda kembali, aku ingat marahku lagi. Untungnya aku tidak sedang mengisi ceramah, sebab marahku bisa membuat ingatanku hilang dan pergi. Atau mengantri makan siang di warung, sebab aku bisa membuat pengantri lain makin murung. Saat itu aku baru pulang dari tempat yang penuh anak sekolah. Masuk lewat pintu belakang. Menengok ikan-ikan di kolam belakang rumah. Menatap langit pagi yang tak begitu biru. Lalu masuk ke rumah dan menulis sesuatu.
“Berpuisi setiap hari bukan berart…

Yang (Teman)

Gambar
Kukira berteman itu buang-buang waktu. Sumber polusi suara di mana-mana, di warung makan, di jalanan, di tempat wisata, dalam sebuah pertemuan. Tapi itu dulu ketika aku masih membangga-banggakan tembok yang kubangun sendiri. Menciptakan teman-teman khayalan dalam angan yang makin mengembang. Berfana-fana dalam kefanaan. Sebelum akhirnya mereka mulai menggerogoti akal sehatku dan kuputuskan untuk menyemayamkan mereka dalam lembar-lembar kisah bertinta.
Hidup bukan cuma persoalan bermain-main sendiri sambil menunggu ajal bukan? Ada banyak hal yang harus dilakukan, ada yang harus diperjuangkan, ada yang harus dipertahankan, dan sebagainya. Setidaknya kini temanku bukan hanya tukang nasi dan kasir minimarket, dan bukan hanya angan yang berjejal menyesaki tengkorak kepala.
Aku bukan orang yang ahli dalam hubungan pertemanan. Bisa dibilang, aku pernah gagal untuk mencintai sebuah pertemanan. Aku pernah membenci semua hubungan pertemanan yang dimiliki orang lain. Itu karena ingatanku akan keba…

Perpisahan: "Dimensi Lain"

Coretan semalam
"Sebuah toples berisi banyak kacang tanah. Kemudian semua kacang itu dikeluarkan dari toplesnya. Kacang-kacang yang berhamburan, terpisah-pisah."
Malam ini aku seperti baru keluar dari dimensi lain. Terlelap selama beberapa jam dan terbangun larut malam. Kukira sudah pagi. Rasa-rasanya aku sudah lama terlelap. Jika kulanjutkan tidur, mungkin masih bisa, tapi aku enggan. Mataku berkunang-kunang sambil kuingat apa yang sudah kulakukan beberapa hari kemarin, hari-hari sebelum aku tertidur lalu bangun dengan aneh. Sepertinya aku kelelahan karena kemarin tidur dengan waktu tidak seperti biasanya. Mungkin ini termasuk tidur balas dendam, walau tak selalu harus berlangsung berjam-jam lamanya.
Aku masih ingat. Ada sebuah pertemuan, acara perkaderan, acara menginap. Sebuah pertemuan yang muncul karena pertemuan sebelumnya. Lalu kubuka notes di telepon genggamku, membaca coretan lain tentang pertemuan. Apa yang membuatku selalu merasa aneh ketika baru kembali dari suatu …

#2 (Sebuah Pertemuan)

#2
tak ada yang salah dengan pertemuan kita tak ada yang salah dengan 10 detik pertemuan pertama kita saling bertukar nama saling bertanya sedikit hidup lalu memulai sebuah cerita
tak ada yang salah bila kau lupa kita ulangi pertemuan pertama lalu merakit sebuah cerita
tak ada yang salah bila kau pernah melihatku sebelumnya lalu berkenalan apa adanya bertukar cerita dengan asyiknya
tak ada yang salah dengan pertemuan kita lalu muncul jutaan pertemuan dengan kau, ia, kau, ia, kau, ia sampai berjuta
tak ada yang salah bila akhirnya kulepaskan kau lalu ku ulang pertemuan lain dengan kau dan ia yang berjuta jumlahnya
tak ada yang salah tak ada

22 Februari 2015

Pada suatu malam, sepulang dari sebuah pertemuan, aku sedang mencoba memaknai sebuah pertemuan. Banyak orang mengatakan bahwa pertemuan adalah awal dari perpisahan, namun sebuah pertemuan juga merupakan awal dari pertemuan-pertemuan lain. Kurasa, pernyataan kedua membuat kita merasa lebih hidup ketimbang pernyataan pertama yang lebih sering didengar. B…

Kan Aneh!

Jumat, 6 Maret 2015
Hari ini aku melihat dua orang yang tampak seperti mahasiswa. Menggunakan kemeja hitam, mungkin wearpack dan mengumpulkan beberapa macam ranting berdaun di sekitar lembah UGM.
“Apakah akan ada pertunjukan drama? Seperti kita dulu.” “Ya mungkin.” “Pada pertunjukan kita juga ada pohon di belakang gardu. Bukan pohon asli tentunya. Hanya ranting-ranting berdaun yang disusun agar tampak seperti pohon sungguhan.” “Kau, kau dulu jadi apa?” “Aku jadi mak-mak penjual salak bersama temanku yang jadi pedagang asongan.” “Ya ya! Aku ingat itu.” “Aku ingat betapa berat menggendong beberapa kilo salak betulan untuk bermain peran.” “Lebih berat mana dengan pemeran Ismiyati? Dia harus pura-pura cinta mati dengan seorang pria di atas panggung.” “Ah kau itu, tentu itu berbeda. Tapi aku tak kan meneruskan kisahku bermain peran dua tahun lalu. Aku akan bercerita tentang hal lain.” “Sayang sekali, padahal aku berharap dapat mendengarmu menyanyikan lagu pertunjukan itu.” “Aku yang s'lalu menungg…