Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Kesal

Aku menduga-duga bahwa aku sedang terserang influenza. Satu lubang nafasku mati dan aku bersin-bersin setiap hari. Jalan makanku mulai tidak benar. Dan wajahku jadi tidak menyenangkan.

Seseorang datang tiba-tiba: kau pasti sedang jatuh cinta dengan lelaki yang hidup di dunia hingga kau resah dan tak berdaya mengangkat wajah bahagia.

Gila! Bukannya menawarkan obat tapi malah menuduh-nuduh soal cinta. Bukannya membawakan jeruk hangat tapi malah membuat suasana makin buruk. Kau ini siapa?

Dia terkekeh-kekeh puas dengan tuduhannya. Kuharap aku punya pinguin yang berprofesi utama sebagai dukun agar mengutuknya jadi pinguin tanpa bulu yang tidak lucu.

Tamat.

Untuk: karib lajangku berhentilah menjalang

Ada laki-laki yang mencintaimu. Kukira kau pun tahu. Apalagi karibmu yang jalang itu. Ia tahu mata mana yang memandangmu
tanpa ragu.

Hari itu kalian bertemu. Lelaki itu masih bersama matanya yang tak ragu. Menatapmu dan karib jalangmu: ia sama jalangnya denganmu.

Dan ia pulang dengan mata yang kini tahu. Masih tanpa ragu.

Dari: karib lajangmu yang lucu tak akan memaksamu

Rahasia

Gambar
suatu hari aku punya rahasia aku ingin memelihara gajah, pinguin, dan onta keinginan yang teramat rahasia satu dua kawan saja yang kubagi cerita karena ini rahasia sampai tiba suatu masa aku tak segera mendapat gajah, pinguin, dan onta kubagi lagi cerita pada berjuta kawan lainnya agar ada jalan keluar segera
gajah, pinguin, dan onta gajah, pinguin, dan onta gajah, pinguin, dan onta
Eureka! aku bukan rahasia

Kelakar Picisan

Pagi ini aku bermimpi kita akan berjumpa dan kau meminta: tak usah bertanya soal cinta
Kau: Akhir-akhir ini aku malas bicara soal cinta karena ujungnya pasti disuruh kawin. Apa mereka pikir aku mencintai untuk kawin? Itu merendahkanku.
Aku: Lantas untuk apa saling cinta tapi tidak kawin? Bukankah cinta itu bunga dari perkawinan?
Kau: Kau ini, rupanya sama saja dengan Usman si kyai "Bunga Rumah Makan"*.
Aku: Hahaha. Kau juga sama dengan Suherman si tentara "Bunga Rumah Makan" yang mencintai Ani bukan untuk kawin.
Kau: Aku belum hendak kawin selama rakyat masih menderita.
Aku: Ya, silakan saja.
Kau: Kalau begitu, kawinlah kau agar tidak diganggu orang.
Aku: Kenapa sekarang kau yang seperti Usman? Menyuruhku untuk lekas kawin.
Kau: Sudahlah, kau kawin saja dulu. Itu demi kebaikanmu.
Aku: Asal kau tahu, akupun belum hendak kawin.
Kau: Mengapa?
Aku: Karena yang hendak mengawiniku belum hendak kawin selama rakyat masih menderita.

*"Bunga Rumah Makan" karya Utuy Ta…

Neon yang Rewel

Gambar
Sudah dua malam neon di kamarku rewel. Berisiknya minta ampun. Berdengung-dengung tak kunjung menyala. Dua malam itu pula aku bermalam dalam gulita. Kupanjat meja belajar. Semoga aku tak disebut kurang ajar. Kutanya si neon rewel. Aku tak mengerti apa maunya.
Pagi-pagi kuajak ia keluar. Menghirup udara segar perkotaan. Ia diam saja. Mungkin takut karena baru kali pertama membonceng perempuan. Kusuruh ia menenangkan pikiran: tenang, perempuan zaman sekarang sudah biasa berkendara di jalan raya. Ia melihat kiri kanannya. Ibu-ibu dengan kendaraan yang penuh plastik belanjaan, wanita-wanita kantor berjaket tebal, dan perempuan-perempuan muda yang tampak pintar.
Kami pun tiba di sebuah toko 'urusan lelaki'. Neon tampak sedih. Tubuhnya yang putih membuatnya makin terlihat pucat. Agaknya ia tahu, setelah ini kami tak akan pernah bertemu. Aku akan membeli neon baru dan ia akan berakhir di tempat sampah. Tempat yang dingin dan menyedihkan. Sama menyedihkannya, sebab di kamarku pun ia …

Beginilah Teman Dekat

Gambar
"Vah Vah," panggil Mbak Nia sambil masih melajukan motornya. Aku membuka kaca helm dan mulai memasang telinga, "Ya?" "Ngomong-ngomong, apa warna asli helm bapak-bapak di depan kita?"
Saat itu, di depan kami memang ada seorang bapak yang mengendarai motor lengkap dengan krombong yang berisi kerupuk.
"Pink, abu-abu, putih, hitam? Yang mana?" jawabku. "Kau juga bingung kan?" "Hmm," aku berpikir sambil terus mengamati helm bapak-bapak di depan. "Kurasa warna aslinya pink seperti helm Sinta yang dulu." "Iya, pink. Bukannya ini tidak penting?" "Ya, memang tidak penting." "Hahaha," kami pun tertawa bersama.
Percakapan di atas tentunya tak akan terjadi bila kami bukan teman dekat. Namun sebelumnya, izinkanlah aku menghela nafas sejenak agar bisa melupakan bahwa aku pernah tidak suka berteman dengan siapapun kecuali anganku sendiri. Mungkin memang tak perlu sepenuhnya dilupakan. Ambil saja pelaj…

Totally Single tapi Bukan Berarti Aku Benar-Benar Sendiri

Gambar
Hari sudah petang. Matari mulai tak tampak namun neon kamar kos yang terpuji tak kunjung menyala. Lama neon hanya mendengung mengeluarkan warna oranye. Mungkin ia butuh pemanasan. Baiklah, kutunggu beberapa saat namun tetap sama, hanya dengung dan warna oranye. Kutekan saklar berkali kali pun tetap sama. Kupikir ia benar benar sudah tidak sehat dan harus segera dipensiunkan. Tapi lebih baik aku menunggu pagi. Intinya malam ini aku sedang tidak ingin meladeni hal seperti itu.
Aku sudah mencoba menggapai neon dengan naik ke atas kursi. Ternyata tidak sampai, alasnya kurang tinggi. Meja di kamar lebih tinggi namun harus digeser agak ke tengah. Benar, benar-benar tidak malam ini. Mejaku bukanlah meja tanpa isi, bukan dataran bumi selapang padang golf. Mejaku adalah pusat kota, padat dan penuh benda-benda. Memang tidak malam ini. Lalu? Tidur lebih awal? Itu bukan solusi. Lihatlah, mataku amat terang dan amat disayangkan bila diajak lelap terlalu awal.
Neon yang hanya berdengung itu seperti m…

Kekasih, Semudah Itu?

Gambar
Saat di bangku menengah atas, aku pernah membayangkan bahwa mendapatkan seorang kekasih itu semudah duduk di tangga kampus ditemani semilir angin yang menjatuhkan dedaunan kering dari atas atap dan tiba-tiba ada seorang lelaki menghampiriku, mengajak berbincang, lalu jatuh cinta. Nyatanya itu hanya ada dalam kepalaku. Namun tidak mustahil hal seperti itu terjadi, walau mungkin bukan padaku. Sebab takdir cinta beragam kisahnya.
Kenyataan lain menguatkan bahwa di kampusku tidak ada tangga seperti yang kubayangkan. Ya, tangga yang luas dan bisa untuk sekadar duduk-duduk sambil menikmati angin. Kurang lebih seperti pada film-film yang pernah kulihat. Tangga yang juga sering untuk berlalu lalang mahasiswa, bukan hanya pejabat kampus (sebab satu-satunya tangga luas di luar ruangan adalah tangga rektorat dan tidak banyak mahasiswa yang ada di sana).
Mungkin memang mudah bagi sebagian orang mendapatkan kekasih, bergonta-ganti kekasih, atau bahkan mempunyai banyak kekasih di masa mudanya.
"B…

Dari Seseorang yang Harus Bangun Pukul Empat dan Menahan Udara Dingin Pedesaan yang Merongrong Tubuhnya Setiap Pagi Selama Tiga Tahun Sembari Bergumam "Sampai Kapan?"

Gambar
Untuk Seseorang yang Kembali Menemukan Dirinya

Pagi ini aku duduk di ruang tamu. Menikmati sarapan yang sedari pagi sudah disiapkan Ibu dan Bapak. Di rumahku tak hanya Ibu yang memasak. Seperti pada buku pelajaran saat sekolah dasar, ibu selalu menyapu dan memasak di dapur, sedangkan ayah membaca koran dan pergi ke kantor. Ibu dan Bapakku memasak bersama, namun ibu pergi ke kantor (katakanlah kantor guru, mengajar) sedangkan Bapak tidak. Kurang lebih tinggal dua tahun lagi ibu pergi ke kantor. Dua tahun yang akan datang, di rumah tak kan ada yang pergi ke kantor. Mungkin hanya sebulan sekali, kantor pos untuk mengambil pensiunan.
Bagaimana denganku? Kemungkinan besar aku pun sudah berkantor walau mungkin memang tidak di dekat rumah. Entah kantor apa itu. Sebagian besar atau bahkan mungkin semua orang bisa dipastikan akan menjawab kantor guru. Sebab aku kini sedang memperjuangkan “S.Pd.”, yang selalu lekat dengan kantor guru, PNS, seragam keki, PGRI, mengurus ratusan anak orang setiap pa…