Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2016

Kesal

Aku menduga-duga bahwa aku sedang terserang influenza. Satu lubang nafasku mati dan aku bersin-bersin setiap hari. Jalan makanku mulai tidak benar. Dan wajahku jadi tidak menyenangkan.

Seseorang datang tiba-tiba: kau pasti sedang jatuh cinta dengan lelaki yang hidup di dunia hingga kau resah dan tak berdaya mengangkat wajah bahagia.

Gila! Bukannya menawarkan obat tapi malah menuduh-nuduh soal cinta. Bukannya membawakan jeruk hangat tapi malah membuat suasana makin buruk. Kau ini siapa?

Dia terkekeh-kekeh puas dengan tuduhannya. Kuharap aku punya pinguin yang berprofesi utama sebagai dukun agar mengutuknya jadi pinguin tanpa bulu yang tidak lucu.

Tamat.

Untuk: karib lajangku berhentilah menjalang

Ada laki-laki yang mencintaimu. Kukira kau pun tahu. Apalagi karibmu yang jalang itu. Ia tahu mata mana yang memandangmu
tanpa ragu.

Hari itu kalian bertemu. Lelaki itu masih bersama matanya yang tak ragu. Menatapmu dan karib jalangmu: ia sama jalangnya denganmu.

Dan ia pulang dengan mata yang kini tahu. Masih tanpa ragu.

Dari: karib lajangmu yang lucu tak akan memaksamu

Rahasia

Gambar
suatu hari aku punya rahasia aku ingin memelihara gajah, pinguin, dan onta keinginan yang teramat rahasia satu dua kawan saja yang kubagi cerita karena ini rahasia sampai tiba suatu masa aku tak segera mendapat gajah, pinguin, dan onta kubagi lagi cerita pada berjuta kawan lainnya agar ada jalan keluar segera
gajah, pinguin, dan onta gajah, pinguin, dan onta gajah, pinguin, dan onta
Eureka! aku bukan rahasia

Kelakar Picisan

Pagi ini aku bermimpi kita akan berjumpa dan kau meminta: tak usah bertanya soal cinta
Kau: Akhir-akhir ini aku malas bicara soal cinta karena ujungnya pasti disuruh kawin. Apa mereka pikir aku mencintai untuk kawin? Itu merendahkanku.
Aku: Lantas untuk apa saling cinta tapi tidak kawin? Bukankah cinta itu bunga dari perkawinan?
Kau: Kau ini, rupanya sama saja dengan Usman si kyai "Bunga Rumah Makan"*.
Aku: Hahaha. Kau juga sama dengan Suherman si tentara "Bunga Rumah Makan" yang mencintai Ani bukan untuk kawin.
Kau: Aku belum hendak kawin selama rakyat masih menderita.
Aku: Ya, silakan saja.
Kau: Kalau begitu, kawinlah kau agar tidak diganggu orang.
Aku: Kenapa sekarang kau yang seperti Usman? Menyuruhku untuk lekas kawin.
Kau: Sudahlah, kau kawin saja dulu. Itu demi kebaikanmu.
Aku: Asal kau tahu, akupun belum hendak kawin.
Kau: Mengapa?
Aku: Karena yang hendak mengawiniku belum hendak kawin selama rakyat masih menderita.

*"Bunga Rumah Makan" karya Utuy Ta…

Neon yang Rewel

Gambar
Sudah dua malam neon di kamarku rewel. Berisiknya minta ampun. Berdengung-dengung tak kunjung menyala. Dua malam itu pula aku bermalam dalam gulita. Kupanjat meja belajar. Semoga aku tak disebut kurang ajar. Kutanya si neon rewel. Aku tak mengerti apa maunya.
Pagi-pagi kuajak ia keluar. Menghirup udara segar perkotaan. Ia diam saja. Mungkin takut karena baru kali pertama membonceng perempuan. Kusuruh ia menenangkan pikiran: tenang, perempuan zaman sekarang sudah biasa berkendara di jalan raya. Ia melihat kiri kanannya. Ibu-ibu dengan kendaraan yang penuh plastik belanjaan, wanita-wanita kantor berjaket tebal, dan perempuan-perempuan muda yang tampak pintar.
Kami pun tiba di sebuah toko 'urusan lelaki'. Neon tampak sedih. Tubuhnya yang putih membuatnya makin terlihat pucat. Agaknya ia tahu, setelah ini kami tak akan pernah bertemu. Aku akan membeli neon baru dan ia akan berakhir di tempat sampah. Tempat yang dingin dan menyedihkan. Sama menyedihkannya, sebab di kamarku pun ia …