Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Dari "Sementara" Menjadi Lebih Berharga dan Tentang Fitur Baru WA

Gambar
Dewasa ini, privasi seperti tak ada harganya lagi. Semua aktivitas dari peluncuran entitas baru ke "medan perang" alias brojolin bayi sampai "how to leave this world with my way" nyata tersaji ke seluruh penjuru negeri. Bukan hanya suka dan duka, melainkan juga rasa benci dan segala jenis emosi jiwa lainnya. Seakan tiada lagi hal yang tidak bisa untuk tidak dibagikan kepada khalayak umum. Bahkan mandi, aktivitas paling pribadi yang semua orang pasti bisa melakukannya pun ada siarannya. Mandi itu aktivitas pribadi lho, kecuali kamu kucing :3
Sebuah kiriman dibagikan oleh Mind Blowon (@tahilalats) pada Mei 19, 2017 pada 3:49 PDT
Dengan Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, Snapchat, Bigo Live, dll. kita bisa menduniakan diri kita, aktivitas kita, hidup kita, tapi tidak hati kita ❤. Aplikasi gratis, daftarnya gampang, kuota murah, kalau ga juga wifi gratis bertebaran, dan kini hampir setiap orang punya hape android. Begitu banyak kemudahan yang mereka tawarkan agar k…

Satuduati...

Gambar
"tanpa harus aku meminta
tanpa harus aku berlari
sampai sesak
peluh berdesak
kau beri aku terang
tentang apa di dalam sana
tanpa sentuh dan dobrak
pintu
ukir
yang
tak
asing
itu"


percakapanku selalu dimulai di malam hari. dan kali ini tak sendiri. ah, aku memang tak pernah sendiri. kau selalu ada, hanya aku lupa diri. aku bercerita padamu tentang sebuah pintu kala bulan masih berdiri, belum menggelinding seperti malam ini. apa lantas kau mengira bulan punya kaki? aku tak membatasi. pintu yang awalnya tak menarik hati. namun seiring detik berdetak, aku melihat ukiran-ukiran yang tampak di permukaannya.
sisi dengan ukiran tertentu menarik perhatianku. pola yang tak asing yang sama seperti di rumahku. jika kau percaya akan takdir. kesamaan ini bukanlah suatu kebetulan. namun sudah digariskan. untuk kali pertama, aku menemukan pola ukiran yang telah tertanam lama sejak aku bisa mengingat pada sebuah pintu saat aku kembali belajar tentang timur dan barat.
detik terus berdetak dan sampai detik…

Salon? Siapa Takut!

Gambar
Kok judulnya memberi kesan seakan tulisan ini adalah tips agar anak tidak takut ke salon ya. Itu berarti saya adalah mamak yang akan menceritakan pengalaman membawa anak usia dua tahun ke salon. Tapi maaf ya bunda-bunda, realitanya ini adalah pengalaman anak usia dua puluhan yang sudah gadis tapi masih takut ke salon sendirian. Wekekek.
Dengan kondisi separuh "demam", pagi itu saya putuskan untuk tetap potong rambut ke salon terdekat. Walaupun pakai baju kemarin *sekalian kotor*, saya tetep mandi lho. Soalnya aneh kalau badan masih belum seger, muka masih kucel, tapi kepala udah seger duluan. Kayak aku dan kamu yang minggu depan mau nikah tapi baru boleh kasih kabar ke temen-temen H-1. Kebahagiaan yang tertahan. Eh, apaan sih, permisalannya nggak nyambung -_-
Sampai di depan Flaurent Beo, saya agak kaget karena masih pagi tapi halamannya udah penuh motor. Tapi terus saya lihat di pojokan gedung, ada mbak-mbak karyawan salonnya lagi potong kuku. Santai gitu. Malah jadi ngir…

Drama Potong Rambut: Case Closed

Gambar
Alhamdulillah... Setelah beberapa pekan men"drama" dengan persoalan rambut, akhirnya pagi ini sudah keturutan jadi Futaba *berkaca-kaca*. Walau nggak 100% sama juga sih. Hehe.

Selain tergila-gila dengan jalan cerita anime-nya yang "Ivah banget" (mungkin kapan-kapan bisa diulas), saya juga kesengsem dengan model rambut karakter utamanya yang asyik. Itu jauh sebelum saya kepingin potong rambut. Model rambut yang baru kemarin saya tahu kalau ternyata itu namanya layer *makasih Kak Renny ☺*.

Drama potong rambut Ivah ini terdiri dari dua chapter, yaitu pingin potong rambut dan bingung mau potong di mana yang mendadak bikin demam ke salon. Untung kan ya udah punya inceran model rambut. Jadi nggak sampai tiga chapter. Dua aja udah pusing.
1. Pingin potong rambut Saya pingin potong bukan karena kesengsem sama suatu model rambut atau karena pingin ke salon. Tapi karena rambut saya sudah panjang walau tetap tipis sampai setengah punggung, hasil dari selama dua tahun lebih ngga…

Ganti...

Gambar
enggak ya?
Apa sih Ivah ni? Apa-apa dibikin tulisan. Ya daripada ngebom orang yang kebetulan lagi di-chat. Mana chat-nya sepanjang long cat yang pernah hits di Kaskus dulu. Mana sok nggak tahu diri. Kalau temen deket pastinya udah paham kebiasaan Ivah yang satu ini. Lha kalau temen yang belum paham? Macem ngebunuh daya tanggapnya. Maaf lho. Wekekek.
Lalu ini mau cerita apa?
Model rambut, nama blog, bio penulis, ganti nggak ya?
1. Model rambut Ivah jarang banget punya rambut panjang nan tantik seperti perempuan pada umumnya. Pas masih emesh aja paling panjang mungkin sebahu. Itu aja nggak bertahan lama karena Ivah adalah tipe anak hits pada masanya. Kutuan! Selain itu, Ibu bilang biar ringkes dan mudah disisir. Referensi model rambut andalan gue saat itu adalah dua om-om ganteng ini.
Siapa lagi kalau bukan Mbaknya Ivah sendiri yang ngasih patokan itu pada adiknya yang aseli perempuan tapi ganteng. Percaya deh, Ivah cilik itu lebih sering dikira cowok daripada cewek. Eh, adekmu ganteng…

Ih Kok Mirip?

Gambar
Mitosnya sih ada tujuh.

Saya percaya di muka bumi ini kita pasti punya "kembaran" atau orang yang pernah dibilang mirip kita atau kita yang mirip dia. Tentunya di luar anggota keluarga ya. Masalah jumlahnya berapa itu hanya Allah yang benar-benar tahu. Bisa jadi ada Ivah versi oriental, Ivah versi mediterania, Ivah versi negro, dan lain-lain. Tapi nggak usah jauh-jauh dulu. Di nusantara aja udah ada empat. Nusantara terlalu lebar ya? Jawa-Sumatera deh. Masih lebar juga? Ya udah, DIY! Halah, padahal mung kisaran Bulaksumur-Karangmalang. Ahaha. Dua dari jenis mbak-mbak dan dua dari jenis mas-mas. Dan salah tiganya berasal dari satu organisasi yang sama dengan saya. Beda generasi aja.
Siapakah mereka?  *Catatan: mirip yang dibahas di sini adalah mirip fisik lebih spesifik lagi mirip wajah. Kalau cara jalan, dll. entar jumlahnya bakal lebih banyak lagi.

1. Mbak-mbak angkatan atas dari jurusan sebelah sekaligus organisasi sebelah juga Yang bilang mirip: a. Mas-mas yang sejurusan …

Curhat Perempuan Setiap Bulan

Gambar
adalah calon gebetan yang terancam jadi mantan dismenore.


Udah tanggal empat di bulan yang selalu dirindukan. Saya pun jadi selalu ngerasa dikangenin banyak orang. Setiap habis tarawih juga selalu dipanggil-panggil. Njuk haru-haru gimana gitu. Betapa manis saat saya yang sangat dirindukan selama sembilan bulan, lalu datang bersama bulan yang juga dirindukan. Duh, Romadhona. Tapi... sampai saat ini saya belum dapet feel-nya. Romadhon Romadhonanya belum terasa. Apa lantaran sampai hari ini saya belum juga puasa? *eh* Iya, saya perempuan. Alhamdulillah normal. Punya siklus bulanan dan suka mas-mas. "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
Siklus yang dimiliki perempuan inilah yang selalu mengingatkan bahwa saya benar-benar perempuan yang suatu hari nanti akan jadi mamak-mamak yang punya banyak anak. Lima? ☺

Soalnya saya pernah merasa kurang perempuan lantaran saya memang bukan tipe perempuan yang perempuan banget. Perasaan saya aja mungkin sih. "Main bedak&qu…

TV, Tak Menarik Lagi

Gambar
dan sepertinya tak akan masuk daftar keinginan untuk dibeli di masa depan nanti.


Bahkan saya pun lupa kapan terakhir kali saya tertarik dengan tv. Yang jelas, saya mulai hidup jauh dari tv sejak enam tahun yang lalu. Sejak saya jadi anak kosan. Bertemu tv hanya sesekali. Entah di kamar teman kos yang lain, di burjo, atau di ruang tunggu sebagai kotak pemecah kebosanan.
Dulu tv pernah amat menarik. Saat kita kecewa ketika ia harus dimatikan tiba-tiba karena hujan datang bersama petir yang menyambar-nyambar. Saat lebih dari satu acara dimulai bersama, sedangkan ada enam pasang mata dengan selera berbeda bersiap-siap di depan sebuah kotak yang menyala-nyala. Saat Bapa datang dan acaranya pasti berganti jadi berita. Saat Ibu datang memberi kudapan dan efek suara potekan buncis beserta kawan-kawannya, hanya itu.
Hanya ibu, satu-satunya orang di rumah yang selalu tampak sepele dengan tv. Sejak dulu sampai sekarang. Kadang-kadang saja Ibu nimbrung dengan apa yang sedang dinikmati anaknya dar…

Terapi Geli Suara Sendiri

Gambar
Siapa yang masih suka geli dengar rekaman suara sendiri? *angkat tangan*

Nggak cuma audio sih, bahkan video kalau ada sayanya juga bikin geli, "Ih, itu ada aku gerak-gerak dan bersuara." Gumunnya udah kayak manusia purba tersesat di masa generasi milenial gitu. Makanya, terakhir bikin vlog-vlogan itu udah dua tahun yang lalu. Nggak ada yang tahu kan? Iyalah, wong nggak diunggah. Lha saya sendiri aja geli ngelihatnya. Tapi bisa jadi vlog ala-ala itu suatu hari nanti akan mejeng di blog ini. Bisa jadi lho ya. Bisa iya bisa enggak.
Tapinya lagi, ada masanya kadang saya nggak punya malu. Iya bener, ada yang pernah dengan pedenya gitu menebar suara sumbangnya di hadapan puluhan peserta DAM IMMBSKM 2015. Alhamdulillah ya videonya ilang kena virus *terharu*. Ya gimana ya, obsesi jadi penyanyi dangdut pantura kadang masih suka kumat. Kalau sekarang sih saya udah semi taubat dan lebih menerima kenyataan kalau suaranya buat konsumsi pribadi aja. Katanya. Tapi adik saya tuh yang bias…

Teleponan

Gambar
"Nelpon rumah adalah perjuangan. Rumah Ivah mungkin terlalu spesial untuk adanya sinyal telepon yang stabil apalagi internet. Ada kalau lagi ada tapi susah pakai pose bobok santai kayak di Yogya. Itu yang kadang bikin Ivah yang udah candu sama koneksi jadi mikir lama "pulang enggak ya?". Tapi pada akhirnya bakal pulang juga. Karena Ibu selalu punya "mantra" reportase aktual yang bikin Ivah, yang masih sering excited dengan ke-ndeso-annya, jadi susah nolak.Ada apa coba? Selain kabar terbaru tentang kucing rumah yang sekarang pinter mijet, ada pasar malem di lapangan belakang rumah Ivah! Untuk pertama kalinya dibolehin sama Pak RT ada wahana hits merakyat ini mejeng di lapangan desa. Yang sudah pasti bakal bikin halaman rumah Ivah jadi kayak dealer roda dua.Akira aja katanya udah dua kali ke pasar malem. Tapi gagal naik dermolen alias bianglala gara-gara pintunya ada yang kebuka pas lagi muter. Untung pas kosong. Ada lagi istana balon yang kempes gara-gara yang …

Me Time Bersama Tarian "Sadako"

Gambar
...and i got a new friend last night ☺
Sadako? Udah, nggak usah ngebayangin dhemit njoget. Soalnya emang bukan, ini bukan Sadako mbak-mbak gondrong gamisan yang suka keluar dari sumur di dalem tv.  Bahkan film aslinya yang dari Jepang pun saya belum pernah nonton. Pernahnya yang versi Barat, The Ring. Tapi emang ke-famous-an Sadako ini tak perlu diragukan lagi. Ngg... tiba-tiba saya jadi kasihan sama yang namanya asli Sadako. Citranya sudah menjurus ke alam lain. Mungkin sama kayak nama Mawar yang citranya sudah menjurus ke... ah sudahlah.

Lalu, siapa Sadako yang ini? "Sadako Sasaki adalah seorang gadis Jepang yang terpapar bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima saat usianya masih dua tahun. Tidak seperti kebanyakan anak-anak lainnya, Sadako mampu bertahan hidup bahkan layaknya manusia normal. Namun, pada usia 12 tahun ia divonis menderita leukimia yang saat itu dikenal sebagai "penyakit bom atom". Sahabatnya pun menyampaikan sebuah legenda Jepang tentang "siapa pun yan…

Ndhudhah Kenangan Bareng Simbah dalam "Ziarah"

Gambar
Tulisan ini akan saya buka dengan pengakuan bahwa saya bukanlah pengamat perfilman. Hobi nonton juga nggak. Biasa-biasa aja. Sehingga saya tidaklah paham dengan persinematografian dan sebagainya. Nonton ya nonton, seneng ya seneng, sesuai selera dan alasan saya sendiri tentunya. Saya cenderung suka dengan film yang tidak banyak menampilkan artis Ibu Kota. Film yang menggunakan aktivis teater atau bahkan bukan orang "terkenal" malah lebih greget. Lebih bisa saya nikmati aktingnya yang "apa adanya". Salah satunya adalah film Ziarah yang mulai tayang di bioskop tanggal 18 Mei lalu.
Selera saya memang kurang berpihak pada para artis Ibu Kota yang sudah terkenal. Kecuali beberapa saja yang menurut saya oke. Bisa dibilang karena saya pernah kecewa dengan film-film yang diangkat dari novel para sastrawan "kesayangan" yang tidak sesuai dengan ekspetasi saya. Entah karena pemilihan aktor dan aktris yang kurang tepat, aktingnya yang wagu, jalan ceritanya yang hmm.…

Suka Lupa (Imun Tisu)

Gambar
Di dunia ini ada tipe orang yang imunnya tipis tapi sok-sokan kalau berkendara nggak pake jaket. (Yang tak pernah benar-benar pergi, Influenza)
Cuman suka lupa. Nggak niat buat sok-sokan. Cuman lupa aja. Terus nemu style maskeran pakai selendang. Ih kok tjakep. Ya udah sepekan full menanggalkan jaket. Mana dalam sepekan sering keluar malem dan ada dua perjalanan jauh, ke Prambanan dan Gunungkidul. Padahal pas mau ke GK, Tias udah ngingetin, "Gilak, kamu nggak pake jaket, Vah?" "Nggak, gerah. Pakek ini ajah *selendang*." Alhasil *hirup ingus*

Dikiranya lemak tebal mampu menghalau angin jahat merasuki tubuh apa? Iya sih, kemarin mikirnya gitu. Beneran. Hahaha. Maaf lho, kadang ada masanya agak-agak begitu, masih mau jadi teman Ivah kan? ☺
Emang celetukan Mbak saya itu sebenar-benarnya fakta. Ya emang sudah saya akui juga kalau saya itu mirip Bapa yang rentan sakit, sedangkan Mbak mirip Ibu yang lebih kebal dengan penyakit. Cuman ya tadi, sering lupa kalau soal imun yang…