Tak Lebih dari Sekadar Buku Harian

... pribadi yang dielektronikkan.


Ada tiga buah buku harian yang kekonsistenan isinya sungguh mengenaskan, sekitar tujuh megabyte file curhat di laptop, dan blog berumur hampir tujuh tahun dengan hanya puluhan postingan yang jika ditelaah lebih lanjut akan diketahui bagaimana pertumbuhan seorang Ivah dari usia belasan sampai dua puluhan.

Yeah, a moody writer...

Sekitar tujuh tahun lalu, blog ini dibuka oleh Ivah enam belas tahun dengan postingan santun yang dilengkapi salam pembuka dan salam penutup. Mengusung tagline "antara mata, hati, dan imajinasi" yang merupakan cerminan isi blog. Dapat berupa pengalaman pribadi penulis atau orang-orang di sekitarnya, ungkapan perasaan, dan imajinasi murni.

Jadi, sudah jelas bahwa blog ini lahir karena keinginan menulis yang tiba-tiba muncul dari gadis belasan tahun yang tak lama setelah itu, ia jatuh hati pada seorang "penulis" di lingkungan sekolahnya sendiri. Lagian juga telat banget, orangnya udah lulus baru ditaksir. Dan jelas bahwa tujuannya ngeblog adalah untuk curhat secara modern. Curhat yang hemat kertas dan tinta tapi boros kuota.

Tapi bukan berarti nulis yang kelihatannya nggak ada apa-apanya gini (karena bukan jenis tulisan serius walaupun berdasarkan pengalaman serius) itu tanpa rintangan.

Males, jelas itu rintangan klasik. Walaupun klasik, pengaruhnya bikin nggak asik. 
Prasangka, ketakutan sepihak dari saya pribadi. Mau nulis begini, nanti dikira begitu. Mau nulis begitu, nanti dikira begini. Sik sik, emang ada yang baca blog ini? Walaupun link-nya saya cantumkan di beberapa medsos, sebenernya saya juga nggak berharap banyak ada yang mau kepo tulisan saya. Jadi, buang jauh-jauh prasangka buruk. Lagian, ini blog umum bukan buku harian yang ada gemboknya. Ya udah sih. 
Rasa bersalah, karena saya menganggap bahwa menulis adalah kegiatan yang menyenangkan. Sedangkan saya merasa belum layak untuk melakukan banyak kesenangan dan merasa senang disebabkan oleh suatu hal. Lalu kalau tulisan yang saya hasilkan itu tampak bahagia, saya merasa bersalah. Oke, ini terlalu mendramatisir.
Kelamaan mikir, tidak semua yang saya alami bisa saya tuliskan. Dan tidak semua tulisan bisa saya bagikan di blog ini. Bisa dibilang bahwa saya termasuk tipikal yang masih sangat menjunjung privasi. Walau untuk beberapa hal, senggol dikit langsung mbleber. Biasanya soal picisan macam cinta.

Akhir kata, apapun rintangannya (yang sebagian besar kok kayake terlalu drama), saya harus selalu berusaha untuk konsisten nulis. Demi rasa syukur pada Ilahi, demi kesehatan jiwa, baik saya pribadi maupun orang-orang di sekitar saya yang sering kena "bom" curcol saya via WhatsApp. Maaf lho ☺

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Salon? Siapa Takut!

Dari "Sementara" Menjadi Lebih Berharga dan Tentang Fitur Baru WA

Me Time Bersama Tarian "Sadako"