Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2017

Dari "Sementara" Menjadi Lebih Berharga dan Tentang Fitur Baru WA

Gambar
Dewasa ini, privasi seperti tak ada harganya lagi. Semua aktivitas dari peluncuran entitas baru ke "medan perang" alias brojolin bayi sampai "how to leave this world with my way" nyata tersaji ke seluruh penjuru negeri. Bukan hanya suka dan duka, melainkan juga rasa benci dan segala jenis emosi jiwa lainnya. Seakan tiada lagi hal yang tidak bisa untuk tidak dibagikan kepada khalayak umum. Bahkan mandi, aktivitas paling pribadi yang semua orang pasti bisa melakukannya pun ada siarannya. Mandi itu aktivitas pribadi lho, kecuali kamu kucing :3
Sebuah kiriman dibagikan oleh Mind Blowon (@tahilalats) pada Mei 19, 2017 pada 3:49 PDT
Dengan Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, Snapchat, Bigo Live, dll. kita bisa menduniakan diri kita, aktivitas kita, hidup kita, tapi tidak hati kita ❤. Aplikasi gratis, daftarnya gampang, kuota murah, kalau ga juga wifi gratis bertebaran, dan kini hampir setiap orang punya hape android. Begitu banyak kemudahan yang mereka tawarkan agar k…

Satuduati...

Gambar
"tanpa harus aku meminta
tanpa harus aku berlari
sampai sesak
peluh berdesak
kau beri aku terang
tentang apa di dalam sana
tanpa sentuh dan dobrak
pintu
ukir
yang
tak
asing
itu"


percakapanku selalu dimulai di malam hari. dan kali ini tak sendiri. ah, aku memang tak pernah sendiri. kau selalu ada, hanya aku lupa diri. aku bercerita padamu tentang sebuah pintu kala bulan masih berdiri, belum menggelinding seperti malam ini. apa lantas kau mengira bulan punya kaki? aku tak membatasi. pintu yang awalnya tak menarik hati. namun seiring detik berdetak, aku melihat ukiran-ukiran yang tampak di permukaannya.
sisi dengan ukiran tertentu menarik perhatianku. pola yang tak asing yang sama seperti di rumahku. jika kau percaya akan takdir. kesamaan ini bukanlah suatu kebetulan. namun sudah digariskan. untuk kali pertama, aku menemukan pola ukiran yang telah tertanam lama sejak aku bisa mengingat pada sebuah pintu saat aku kembali belajar tentang timur dan barat.
detik terus berdetak dan sampai detik…

Salon? Siapa Takut!

Gambar
Kok judulnya memberi kesan seakan tulisan ini adalah tips agar anak tidak takut ke salon ya. Itu berarti saya adalah mamak yang akan menceritakan pengalaman membawa anak usia dua tahun ke salon. Tapi maaf ya bunda-bunda, realitanya ini adalah pengalaman anak usia dua puluhan yang sudah gadis tapi masih takut ke salon sendirian. Wekekek.
Dengan kondisi separuh "demam", pagi itu saya putuskan untuk tetap potong rambut ke salon terdekat. Walaupun pakai baju kemarin *sekalian kotor*, saya tetep mandi lho. Soalnya aneh kalau badan masih belum seger, muka masih kucel, tapi kepala udah seger duluan. Kayak aku dan kamu yang minggu depan mau nikah tapi baru boleh kasih kabar ke temen-temen H-1. Kebahagiaan yang tertahan. Eh, apaan sih, permisalannya nggak nyambung -_-
Sampai di depan Flaurent Beo, saya agak kaget karena masih pagi tapi halamannya udah penuh motor. Tapi terus saya lihat di pojokan gedung, ada mbak-mbak karyawan salonnya lagi potong kuku. Santai gitu. Malah jadi ngir…

Drama Potong Rambut: Case Closed

Gambar
Alhamdulillah... Setelah beberapa pekan men"drama" dengan persoalan rambut, akhirnya pagi ini sudah keturutan jadi Futaba *berkaca-kaca*. Walau nggak 100% sama juga sih. Hehe.

Selain tergila-gila dengan jalan cerita anime-nya yang "Ivah banget" (mungkin kapan-kapan bisa diulas), saya juga kesengsem dengan model rambut karakter utamanya yang asyik. Itu jauh sebelum saya kepingin potong rambut. Model rambut yang baru kemarin saya tahu kalau ternyata itu namanya layer *makasih Kak Renny ☺*.

Drama potong rambut Ivah ini terdiri dari dua chapter, yaitu pingin potong rambut dan bingung mau potong di mana yang mendadak bikin demam ke salon. Untung kan ya udah punya inceran model rambut. Jadi nggak sampai tiga chapter. Dua aja udah pusing.
1. Pingin potong rambut Saya pingin potong bukan karena kesengsem sama suatu model rambut atau karena pingin ke salon. Tapi karena rambut saya sudah panjang walau tetap tipis sampai setengah punggung, hasil dari selama dua tahun lebih ngga…

Ganti...

Gambar
enggak ya?
Apa sih Ivah ni? Apa-apa dibikin tulisan. Ya daripada ngebom orang yang kebetulan lagi di-chat. Mana chat-nya sepanjang long cat yang pernah hits di Kaskus dulu. Mana sok nggak tahu diri. Kalau temen deket pastinya udah paham kebiasaan Ivah yang satu ini. Lha kalau temen yang belum paham? Macem ngebunuh daya tanggapnya. Maaf lho. Wekekek.
Lalu ini mau cerita apa?
Model rambut, nama blog, bio penulis, ganti nggak ya?
1. Model rambut Ivah jarang banget punya rambut panjang nan tantik seperti perempuan pada umumnya. Pas masih emesh aja paling panjang mungkin sebahu. Itu aja nggak bertahan lama karena Ivah adalah tipe anak hits pada masanya. Kutuan! Selain itu, Ibu bilang biar ringkes dan mudah disisir. Referensi model rambut andalan gue saat itu adalah dua om-om ganteng ini.
Siapa lagi kalau bukan Mbaknya Ivah sendiri yang ngasih patokan itu pada adiknya yang aseli perempuan tapi ganteng. Percaya deh, Ivah cilik itu lebih sering dikira cowok daripada cewek. Eh, adekmu ganteng…

Ih Kok Mirip?

Gambar
Mitosnya sih ada tujuh.

Saya percaya di muka bumi ini kita pasti punya "kembaran" atau orang yang pernah dibilang mirip kita atau kita yang mirip dia. Tentunya di luar anggota keluarga ya. Masalah jumlahnya berapa itu hanya Allah yang benar-benar tahu. Bisa jadi ada Ivah versi oriental, Ivah versi mediterania, Ivah versi negro, dan lain-lain. Tapi nggak usah jauh-jauh dulu. Di nusantara aja udah ada empat. Nusantara terlalu lebar ya? Jawa-Sumatera deh. Masih lebar juga? Ya udah, DIY! Halah, padahal mung kisaran Bulaksumur-Karangmalang. Ahaha. Dua dari jenis mbak-mbak dan dua dari jenis mas-mas. Dan salah tiganya berasal dari satu organisasi yang sama dengan saya. Beda generasi aja.
Siapakah mereka?  *Catatan: mirip yang dibahas di sini adalah mirip fisik lebih spesifik lagi mirip wajah. Kalau cara jalan, dll. entar jumlahnya bakal lebih banyak lagi.

1. Mbak-mbak angkatan atas dari jurusan sebelah sekaligus organisasi sebelah juga Yang bilang mirip: a. Mas-mas yang sejurusan …