Dari "Sementara" Menjadi Lebih Berharga dan Tentang Fitur Baru WA

Dewasa ini, privasi seperti tak ada harganya lagi. Semua aktivitas dari peluncuran entitas baru ke "medan perang" alias brojolin bayi sampai "how to leave this world with my way" nyata tersaji ke seluruh penjuru negeri. Bukan hanya suka dan duka, melainkan juga rasa benci dan segala jenis emosi jiwa lainnya. Seakan tiada lagi hal yang tidak bisa untuk tidak dibagikan kepada khalayak umum. Bahkan mandi, aktivitas paling pribadi yang semua orang pasti bisa melakukannya pun ada siarannya. Mandi itu aktivitas pribadi lho, kecuali kamu kucing :3


Dengan Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, Snapchat, Bigo Live, dll. kita bisa menduniakan diri kita, aktivitas kita, hidup kita, tapi tidak hati kita ❤. Aplikasi gratis, daftarnya gampang, kuota murah, kalau ga juga wifi gratis bertebaran, dan kini hampir setiap orang punya hape android. Begitu banyak kemudahan yang mereka tawarkan agar kita mengubur dalam-dalam obsesi misterius kita yang dari dulu belum juga kesampaian, atau mungkin enggak -_-. "Kemudahan-kemudahan" itulah salah satu yang membuat banyak orang baik yang masih peduli mulai menggencarkan bagaimana cara cerdas bermedia sosial.

Dan sekarang... WhatsApp (WA) juga ikut-ikutan *kuota-kuota, siaga satu!*. "Buletan ijo" yang tadinya dianggap paling formal dan pribadi, kini punya fitur yang tak kalah alay. Oke, ini udah basi. Semua orang mungkin sudah membagikan ratusan atau bahkan ribuan kisah hidupnya sejak beberapa bulan lalu via WA-story. Tapi Ivah, baru beberapa hari lalu memperbarui aplikasinya dan baru dua story dia buat. Itu pun yang satunya langsung dihapus beberapa jam kemudian. Mood swing.

Salah satu bentuk kreativitas di WA-story

Selain fitur WA-story, WA juga menambahkan banyak emoji baru dan fitur gambar gerak alis GIF image. Ada yang benar-benar baru dan ada juga emoji pelengkap yang baru dihadirkan agar mereka tak sendiri lagi, seperti emoji pengantin pria, lelaki penari, dan mas-mas potong rambut. Selamat ya mbak-mbaknya yang sekarang udah ada pasangannya. Wkwk.



Berbagai emoji profesi baru yang langsung ada pasangannya

Sebenarnya kalau bisa milih buat nggak update aplikasi, saya milih nggak deh. Walaupun kalau ada yang chat pakai emoji baru yang saat itu di saya munculnya cuma persegi panjang isi tanda silang, saya sering bilang, "Mau dikasih emoji sebanyak apapun, aku nggak bakal tahu apa yang sedang kamu ekspresikan." *#ngeselin*
Tapi setelah beberapa bulan menikmati kebebasan WA "sehat" tanpa story, akhirnya saya "diancam" juga sama si dia. Sebulan lagi atau kita putus. Lima belas hari lagi atau kita putus. Dan sebelum dia bilang "hari ini atau kita putus", update aja deh. Konsumen gretongan mah ngikut aja. Walau umumnya bakal sambat duluan sebelum akhirnya tak berdaya dan manut. Hmm... hooman.

Lagi-lagi, saya bukan orang yang tahan-tahan amat buat nggak update story. Emang agak susah buat nahan nafsu bercerita bagi orang yang gemar bercerita. Apalagi saya yang overexcited dengan banyak hal. Paribasan cuma bebek berenang atau ayam jalan pun mungkin akan saya story-kan. Seakan "I want everyone to know that bebek can swim and ayam has two legs". Atau hanya sekadar bentuk ekspresi dari saya yang lama tak melihat bebek dan ayam secara langsung. Walaupun sering saya dengar bahwa "no one excited with your life". Tapi peduli apa dengan mereka? Toh, hidup-hidup saya. Akun-akun saya. Hape-hape saya *nah loh, mulai deh kayak artis yang habis kena serangan netijen endonesa*.
"Ingat, kebebasan kita dibatasi oleh kebebasan orang lain."

Itulah kenapa saya baru update aplikasi setelah dua kali "diancam" oleh yang bersangkutan. Karena saya kurang bisa menahan nafsu untuk update yang nggak penting. Bahkan di Romadhon ini *koreksi koreksi*. Saya cuma nggak mau tambah alay dan nggak efektif hidupnya. Gitu lho. Apalagi WA kan jaraknya paling dekat dengan kita setelah dia berhasil menggeser posisi SMS di hati. Makanya saya menganggap fitur baru WA ini mengancam keefektifan hidup makhluk imut seperti saya yang masih mudah tergoda akan gemerlap dunia yang tak ada nilainya. Ancaman berbentuk buaian fasilitas untuk menjadi semakin alay bagi saya yang sudah alay. Alay frenzy!

Katakanlah, sebelumnya saya sudah merasakan gejolak perilaku saya sendiri di Instagram. Caption yang nggak cukup separagraf dan Instastory yang udah ganti padahal baru beberapa jam, bahkan menit. Mood swing. Ganti lho, bukan nambah. Jadi story awal dihapus, lalu bikin story lagi. Dan kebanyakan isine ya sambat. Apa meneh jal? Ra efektif blas -_-. Selain itu, gejolak saya semakin menjadi-jadi ketika sambatan orang-orang yang emosional sering membuat saya merasa tidak nyaman. Perbedaan pendapat yang disikapi secara emosional. Hujat sana hujat sini. Saling menebar kebencian. Itu membuat hidup saya tidak tenang. Bumi krisis kedamaian.

Semua keresahan itu butuh solusi dan pasti ada solusinya.

Apa salah majang kepsyen segambreng di Instagram? Nggak sih, saya kan juga nggak nyalahin. Tapi bagi saya, sayang kalau tulisan sepanjang itu cuma tak taruh di Instagram. Apalagi cuma nyasar di chat WA teman-teman. Wkwk. Perilaku mematikan daya tanggap orang lain plus menidak-efektifkan hidupnya. Maaf lho ☺. Padahal saya merasa mampu untuk mengembangkan kepsyen itu menjadi tulisan yang lebih panjang lagi. Lebih rinci lagi ceritanya. Ya di mana lagi kalau bukan di blog pribadi seperti ini.

(Sebenarnya kalau di Instagram itu saya juga jadi nggak tenang karena jadi bolak-balik buka aplikasi buat ngelihat siapa yang kasih ❤❤❤. Padahal saya matiin notifikasi Instagram biar tenang, eh malah... Sungguh tidak sehat kehidupan generasi milenial ini.)

Nulis unek-unek yang ditata rapi di blog. Unek-unek rinci dengan hikmah yang bisa kita petik walau kebanyakan kayaknya yang ada di blog saya sampah deh T.T. Saya merasa mending every little thing yang pingin saya story-kan, saya tahan dulu di notes. Karena seiring berjalannya waktu, pasti Allah bakal ngasih ide panjang untuk membuat sekelumit hal itu menjadi sebuah tulisan yang lebih worth dibanding story yang dalam hitungan jam aja udah hilang tak berbekas. Ya Allah dong, siapa lagi? ☺

Nah, kalau bisa jadi lebih worth kan itu lumayan mengefektifkan hidup sehingga saya bisa jadi lebih tenang. Lalu, karena saya lebih menyibukkan diri untuk menulis di blog yang embuh ada yang baca apa enggak karena saya masih males dan belum pede promosi, intensitas Instagram-an saya juga jadi berkurang. Hamdalah. Tenang uripku ☺.

Saya yakin, banyak manfaat lain dari sekadar menulis unek-unek ini selain ketenangan hidup, yaitu kita dapat meningkatkan dan menjaga kemampuan "hibah ide" alias menuangkan pikiran alias menulis. Kita juga dapat menggunakan arsip tulisan-tulisan kita untuk melakukan refleksi, untuk lebih mensyukuri hidup kita. Dan pasti juga ada manfaat jangka panjang yang akan kita rasakan KALAU kita bisa konsisten melakukan aktivitas "hibah ide" ini.  Oh... moody writer. Semoga Allah meridhoi saya dan semua yang sedang mengistiqomahkan hal-hal positif dalam hidupnya ☺. Amin.

Mari kita renungkan, sebenarnya banyak hal sepele di sekitar kita yang kurang kita sadari nilainya ketika belum "diolah" lebih lanjut.

Ambil hikmahnya ya! ☺☺☺

Komentar

  1. Iya sih mbak, gak semuanya perlu dibagi kan ya?
    Bijak bermedsos itu wajib TFS

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dia itu Aku

Salon? Siapa Takut!

Nyoh Ilmu, Nyoh!