Drama Potong Rambut: Case Closed

Alhamdulillah...
Setelah beberapa pekan men"drama" dengan persoalan rambut, akhirnya pagi ini sudah keturutan jadi Futaba *berkaca-kaca*. Walau nggak 100% sama juga sih. Hehe.

Futaba

Selain tergila-gila dengan jalan cerita anime-nya yang "Ivah banget" (mungkin kapan-kapan bisa diulas), saya juga kesengsem dengan model rambut karakter utamanya yang asyik. Itu jauh sebelum saya kepingin potong rambut. Model rambut yang baru kemarin saya tahu kalau ternyata itu namanya layer *makasih Kak Renny ☺*.

Yoshioka Futaba, karakter utama "Ao Haru Ride"

Drama potong rambut Ivah ini terdiri dari dua chapter, yaitu pingin potong rambut dan bingung mau potong di mana yang mendadak bikin demam ke salon. Untung kan ya udah punya inceran model rambut. Jadi nggak sampai tiga chapter. Dua aja udah pusing.

1. Pingin potong rambut
Saya pingin potong bukan karena kesengsem sama suatu model rambut atau karena pingin ke salon. Tapi karena rambut saya sudah panjang walau tetap tipis sampai setengah punggung, hasil dari selama dua tahun lebih nggak ketemu "Mas Gun". Karena panjangnya sudah melebihi kerudung kalau cuma diikat biasa, maka harus diikat tekuk yang akibatnya saya jadi mudah pusing. Kalau diikat biasa terus dimasukkan ke baju, itu bikin punggung gatel. Awalnya aja sih. Tapi walau udah terbiasa, rambutnya yang jadi kusut kena keringet. Ya kondisi rambut saya kan lurus tipis nan letoy. Alhamdulillah masih punya rambut.

Saya pingin potong rambut tapi saya juga punya keinginan potongnya habis nikah aja. Nah loh. Jadi, rencananya rambut panjang ini akan saya jadikan salah satu bekal buat nikah *selain bekal lain yang serius-serius macem ilmu. Bekal biar nanti potongnya "diatur" suami mau model apa. Baik lho saya *halo mas jodoh*. Hahaha. Dan ternyata bukan cuma saya yang punya keinginan "yang kayaknya alay" gitu. Beberapa teman saya juga ngaku pas saya cerita soal dilema dua keinginan ini. Jadi ya saya ngerasa normal-normal aja. Perempuan mah gitu.

Lalu gimana temen-temen saya itu? Yang satu akhirnya memutuskan untuk potong lumayan banyak, satunya lagi menyarankan saya untuk potong ujungnya saja. Dan tentu saya pilih yang "potong dikit".

2. Bingung mau potong di mana sampai bikin demam
Rata-rata teman saya adalah perantau, jadi mereka kalau potong rambut milih di rumah. Antara emang di rumah lebih murah atau ada Emak yang bayarin. Malah ada yang katanya suka potong sendiri *jempol lima*. Sebenarnya selama di Yogya saya udah pernah ke salon dua kali. Di Flaurent Kotabaru dan AzZahra Ngupasan. Tapi ya namanya Ivah, kadang pingin nyoba yang belum pernah.

Minta saran sana-sini tentang salon muslimah, ujungnya sama, AzZahra. Karena yang tak tanyain mayoritas adalah alumni sekolah kadernya Muhammadiyah alias Mu'allimaat cuma beda angkatan. Wekekek. Ya sekolah mereka kan di sekitar sana. Ada sih saran lain, RSCM di Gedongkuning atau Jakal. Tapi jauh juga dari kosan. Lagi males aja berperilaku selo walau emang selo. Simpan tenaga aja sih buat agenda "duduk manis" sampai Ahad.

Saran yang deket juga ada, dari mbak kos. Recomended. Hasil potongannya bagus dan harganya oke. Tapi yang motong "mas-mas" walau kembak-mbakan, tetep aja mas-mas kan ya. Sempat tergiur sih dengan yang katanya hasilnya bagus. Eh, sejak kapan Ivah menthel begini? Sampai mikir hasil potongan bagus. Biasanya juga yang penting potong. Kan ujungnya juga dikerudungin lagi. Tapi mari sejenak meluruskan niat, wong mau potong di rumah aja mikir karena salon di sana banyak bapak-bapak krimbat-nya.

Sebenarnya tetap masih pingin salon muslimah kalau bisa. Hmm... aurat muslimah. Tapi apa daya semuanya jauh. Yaudah salon khusus perempuan aja yang deket kosan. Emang ada? Ada banget. Flaurent Beo. Ya kan Ivah, mikirnya udah yang berkilo-kilo sampai ngitungin jarak pakai Google Map. Ujungnya pakai yang cuma 1 km dari kosan.

Eh, belum selesai lho ini dramanya. Masih ada puncak, yaitu Ivah demam. Bangun tidur gitu nggliyeng. Kayak semalem habis makan semangka, melon, dan timun, masing-masing sebakul. Mbak-mbak usia dua puluhan yang lebih takut ke salon daripada maem di Burjo sendirian. Intinya adalah takut ke salon sendirian karena bukan "perempuan salon" yang kemudian merambah jadi takut disuruh pakai kemben. Saya nggak mau lepas baju -_-. Kan dulu, dulu banget, pernah krimbat sama temen terus disuruh ganti pakai kemben gitu. Rasanya canggung walaupun semua perempuan.

Hiks... Ivah ndeso T.T *eh, bukannya kalau ndeso malah biasa ke kali cuma kembenan gitu?*

Well... setelah drama maju mundur sampai mendadak demam, akhirnya juga tetep potong. Tetep ke salon. Tetep ke Flaurent Beo yang cuma saknyukan dari kos. Hamdalah... Karena teman saya bilang kalau cuma potong itu nggak pakai kemben tapi ditutup kain aja. Wekekek ndeso. Ya kan saya kira semua yang dilakukan di salon perkotaan itu pelanggannya wajib pakai kemben. Ahaha.

Terus, mana cerita ke salon dan hasil potongannya? Ada, tapi lanjut besok lagi ya! Selamat berakhir pekan ☺

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Salon? Siapa Takut!

Dari "Sementara" Menjadi Lebih Berharga dan Tentang Fitur Baru WA

Me Time Bersama Tarian "Sadako"