Satuduati...

"tanpa harus aku meminta
tanpa harus aku berlari
sampai sesak
peluh berdesak
kau beri aku terang
tentang apa di dalam sana
tanpa sentuh dan dobrak
pintu
ukir
yang
tak
asing
itu"


percakapanku selalu dimulai di malam hari. dan kali ini tak sendiri. ah, aku memang tak pernah sendiri. kau selalu ada, hanya aku lupa diri.
aku bercerita padamu tentang sebuah pintu kala bulan masih berdiri, belum menggelinding seperti malam ini. apa lantas kau mengira bulan punya kaki? aku tak membatasi.
pintu yang awalnya tak menarik hati. namun seiring detik berdetak, aku melihat ukiran-ukiran yang tampak di permukaannya.

sisi dengan ukiran tertentu menarik perhatianku. pola yang tak asing yang sama seperti di rumahku. jika kau percaya akan takdir. kesamaan ini bukanlah suatu kebetulan. namun sudah digariskan.
untuk kali pertama, aku menemukan pola ukiran yang telah tertanam lama sejak aku bisa mengingat pada sebuah pintu saat aku kembali belajar tentang timur dan barat.

detik terus berdetak dan sampai detik ini tak sedikit yang kuketahui tentang apa yang ada di balik sana tanpa harus aku mendobrak. bahkan menyentuh pun tidak. tanpa harus aku tersengal karena langkah yang kupercepat. tanpa harus aku bertanya lebih dulu padamu. ya, kaulah yang memberi kata tentang apa yang ada di balik sana. tanpa kupinta.

bukankah ini terlalu cepat? maksudku, untuk apa aku tahu terlalu dini tentang apa yang ada di balik sana ketika aku belum bisa membuka pintu itu. bahkan menyentuh pun tidak. begitupun sang pintu yang masih enggan membukakan dirinya untukku. 

- kau tahu? kata yang kau sampaikan itu. kadang membuatku takut pada diriku. tapi, bukankah engkau lebih kuasa? dan aku tahu. tentu. bukan karena kemampuanku. namun dengan izinmu. - 

kau menyayangiku. semua tahu itu. pun denganku. kasih sayangmu tiada banding. dan semua tahu kau tak kan pernah menyakitiku karena aku pun menyayangimu. bahkan jika aku tak menyayangimu pun, kasih sayangmu tak pernah putus barang sepucuk kuku.

kau tersenyum menjawabku.

dengan membagi kata padaku, sebenarnya kau ingin agar aku selalu dekat denganmu bukan? kau rindu. hanya aku yang sering tak tahu. atau tak mau tahu.

bahwa sebenarnya aku pun tahu. suatu hari nanti kau pasti akan membukakan pintu itu untukku. jika pun tidak. kau pun akan menerangkan padaku. pasti. kau yang paling menyayangiku tanpa syarat. kau dengan kasih sayang yang tiada banding. tentu. Kau yang paling tahu pintu mana yang Kau inginkan untukku.

dan ranum untuk dipetik. itu butuh waktu. 

aku mencintai-Mu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dia itu Aku

Salon? Siapa Takut!

Nyoh Ilmu, Nyoh!