Dia itu Aku

Suatu kejelasan jika malam ini saya gagal tidur lebih awal. Ah, itulah mengapa teman-teman bilang, "Jangan menunda tidur atau kau akan kehilangan kantukmu."

Selepas maghrib tadi, mata saya sudah berat, badan saya sudah lelah. Sebuah sinyal yang sangat jelas untuk cepat tidur. Namun entah mengapa saya masih ingin menyentuh-nyentuh gawai walaupun lampu kamar telah dimatikan. Gelap. Justru makin banyak hal yang ingin saya lakukan ketika badan telah rebah di pembaringan. Teringat nada, lalu menyanyi, menghidupkan laptop, mengunggah story, dan lain sebagainya hingga sampailah saya membaca-baca beberapa laman yang telah saya unduh sejak berhari-hari lalu. Laman berisi tulisan-tulisan ringan namun mendalam. Atau tulisan-tulisan mendalam yang dikemas ringan. Ah, itulah. Saya suka.

Singkatnya, saya menemukan seorang penulis dari salah satu tulisan yang juga seorang peneliti di bidang yang saya minati. Menarik! Saya cari akun media sosialnya kemudian saya kirimkan permintaan pertemanan. Saya berharap bisa mendapatkan tetesan ilmu lebih lanjut darinya.

Sayangnya, kali ini saya tak hendak menceritakan apa hal menarik tersebut. Memang tidak. Sebab yang mendorong saya untuk benar-benar menggagalkan tidur lebih awal adalah persoalan di sudut lain.

Apakah saya tertarik untuk mencari penulis tersebut tanpa sebuah tendensi? Tentu tidak. Ada sedikit tendensi walau itu mini. Sebuah tendensi mini akan sebaris huruf yang menjelma menjadi kata yang tidak pula akan saya sebutkan di sini.

Saya mengagumi orang-orang dengan wawasan luas yang santun perilakunya. Saya mengagumi orang-orang dengan wawasan luas yang dapat mengemas pikirannya dalam wujud yang luwes, jika itu dalam bentuk tulisan maka akan ringan dibaca namun mengena. Selaras dengan keinginan saya, sejak lama saya ingin berkawan dengan seseorang yang dapat bicara panjang tentang hal-hal yang saya minati. Minat yang sama dan perbincangan yang menguasai semesta.

Merupakan keinginan saya untuk bisa larut dalam sebuah perbincangan yang bukan hanya saya minati namun juga saya pahami, dengan seseorang yang berwawasan luas dan cakap mengemas cakapnya, sehingga mungkin saya akan menganga sebab terpana, "Waaa..." Lalu bersama-sama mengunjungi diskusi sastra misalnya dan pulang dengan masih berkomentar tentang acara. Menyisipinya dengan kekayaan alam pikirnya yang mungkin saya pun tak kepikiran!

Namun itu hanya angan saya. Imajinasi. Isi kepala saya saja. Sebagaimana banyak orang berkomentar (baik namun di belakang) tentang saya dan imajinasi gila yang sering saya pampang di story. Fragmen-fragmen yang belum juga usai. Berai. Suatu hal yang pernah membuat saya merasa tidak waras dan amat perlu bertemu dengan ahli jiwa. Ah, saya waras-waras saja (kok) dan memang punya imajinasi yang tidak biasa. Salah satunya imajinasi tentang percakapan yang benar-benar saya lakukan sendiri. Imajinasi yang menunjukkan bahwa saya belum terpuaskan dengan realitas yang ada. Saya belum puas dengan respon lawan bicara saya selama ini sehingga saya harus membuat percakapan mandiri. Percakapan antara diri saya sendiri. Sinting memang.


Jadi...

Apakah sebenarnya keinginan kita itu adalah hal yang sebenarnya sudah ada di dalam diri kita? Hanya saja perlu kembali digali, perlu difasilitasi sehingga bisa muncul seperti yang telah kita impi-impi selama ini? Tanpa perlu jauh-jauh mencari siapa sosok yang diinginkan. Ya kecuali keinginan soal kawin, berkeluarga, dan lain hal yang tak bisa diwujudkan hanya oleh diri sendiri.

Jadi...

Apakah selama ini sebenarnya saya sedang mencari diri saya sendiri? Dengan mengingini dalam-dalam tentang (mungkin) diri saya sendiri yang ternyata sampai hari ini pun belum khatam saya kenali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Biarkan Aku Bercerita

Curhat Perempuan Setiap Bulan

Drama Potong Rambut: Case Closed