Nyoh Ilmu, Nyoh!

Kau tahu? Tentu tidak. Siang ini aku sedang mengenang perasaan tiap masuk kelas, yaitu kuingin bawa tali jemuran yang panjang, lakban yang tebal, lalu kuikat satu-satu anak ibu bapak yang tak mau diam. Kurekatkan lakban erat-erat pada mulut mereka yang jarang tenang. Kutuangkan seluruh materi pelajaran dalam ember besar. Kemudian kusiram mereka satu persatu, "NYOH ILMU, NYOH NYOH ILMU, NYOH!!!"
~ Aku, muda dan (masih) fakir formula

Tentu tak kan senyata itu kegiatan yang saya lakukan di sekolah sebagai teman belajar putra putri ibu bapak. Itu hanya selecutan ekspresi gemas, selecutan saja yang bercampur konten viral #alaBuDendy. Betapa urusan manajemen kelas bisa membuatmu cemas selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, sampai-sampai muncul ungkapan "siswa adalah mimpi buruk setiap malam". Lebih mengerikan dibanding kerinduan akanmu #suarasiulsiul.

Apakah "mangga muda" ini tak mendengarkan nasihat yang lalu lalang bahwa kondisi setiap siswa di setiap tempat itu berbeda, bahwa siswa yang kini ada sudah tentu berbeda dengan masa ketika ia menjadi siswa? Apalagi saya merasa bahwa dulu saya siswa yang lurus, tak pernah ribut barang sejurus. Mungkin pernah, sedikit, tapi saya lupa. Hahaha.

Hanya mengetahui tanpa terjun langsung ke lapangan tentu akan berbeda dengan yang sudah terjun ke lapangan walau sebelumnya telah mengetahui. Hanya sekadar tahu dan pernah merasakan itu berbeda. Ibarat kau pernah diberi tahu bagaimana rasanya jempol kaki tersandung kaki meja namun kau belum pernah mengalaminya, belum pernah merasakannya. Kau tahu kalau rasanya sakit, katanya, tanpa pernah merasakannya. Lalu suatu hari tiba masanya jempol kakimu benar-benar terkatuk kaki meja. Sakit? Ya, dan kau akan mengeluarkan ekspresi akan rasa sakit yang nyata itu.

Begitu pula dengan mengajar, menjadi teman belajar anak-anak orang dengan berbagai latar belakang yang lama-lama pun akan kau ketahui juga. Ada suka dan duka, bukan hanya suka cita gembira seperti yang dicontohkan video-video di bawah naungan pemerentah. Video yang mana? Yang itu, yang semua siswanya bertingkah sesuai harapan. Hahaha. Ya keleus, buk! Kalau contohnya disesuaikan realitas, jatohnya jadi film dokumenter atau sekalian film layar lebar atau drama berseri yang diangkat dari kisah nyata.

Pasti masih banyak formula mengajar di luaran sana yang belum dicoba oleh guru teman belajar yang ingusnya masih panjang ini. Ya, ada perasaan yang terlampau kuat mendesak diri pada jurang keputusasaan: kabeh wis tak jajal!

Seperti ketika kau dimintai tolong untuk mencabut uban bu guru dengan sebilah pedang kapur putih, kau benar-benar yakin bahwa sudah tidak ada rambut putih di mustaka bu guru. Tapi bu guru masih bersikeras kalau uban di kepalanya belum tuntas lantaran ia masih merasa gatal. Mungkin rambut putih itu memang masih ada sesuai dengan perasaan bu guru, tapi kau kadung tak enak terlalu lama ndemok-ndemok mustakane gurumu.

Hmm... sejatinya, analogi ini memang terlalu mekso. Hahaha.

*Edisi ala kadarnya sebab kehendak menulis yang tak boleh disia-sia. Timbang ora.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dia itu Aku

Salon? Siapa Takut!